Dalam Satu Tahun Mengemban Kewajiban

Kita adalah satu, kita adalah sama. Satukan semangat kita, layaknya serangkaian rantai baja.

Ini merupakan postingan lanjutan dari tulisan yang dibuat satu tahun yang lalu dengan judul Menjemput Agustus dengan Amanah. Rasanya sedikit bagaimana gitu, “Eh, ternyata sudah satu tahun berlalu, cepat, singkat, padat namun banyak sekali kejadian-kejadian, momen serta pengalaman.”

Lega rasanya menanggalkan satu kewajiban yang diberikan satu tahun lalu, meskipun mungkin dalam satu tahun ini saya banyak sekali melalukan kesalahan, banyak sekali menyakiti hati, dan banyak sekali memberikan contoh yang kurang baik, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Semoga dalam satu tahun kedepan akan jauh lebih baik dari pada hari ini. aamiin ..

Kembali dari Hutan

Ketika aku turun dari hutan, sejenak aku binggung dengan keadaan di kota. Aku pulang seperti biasa dengan Mio Sporty tahun 2008ku yang masih oke, tak lupa juga aku harus mengantar Nyai pulang ke rumah, dengan uang saku darinya untuk beli bensin aku lanjutkan perjalanan menuju Ngawi dengan perasaan riang gembira.

Sesampainya di SPBU, bergegas aku menyodorkan uang Rp 10.000 kepada petugas sambil berkata, “Sepuluh, mas.” We…lha dala.. kok perasaan cuma dapet ‘sak crit’. Wah .. gak beres ini SPBU, maunya aku laporkan, tapi ternyata tidak ada nomor pengaduan.

Rasa penasaran masih menyelimuti pikiran, jangan jangan ada jangan jangan. Sengaja aku tidak langsung tancap gas, berusaha melirik deretan angka digital di alat pompa, jrenggg….!! 6.500 …

Sial, BBM sudah naik..

Diantara Mei dan Juni

Ini teguran, jangan dijadikan alasan untuk tidak tersenyum.

  • Headset hilang
  • Laptop rusak
  • Sepatu hilang

Ya Tuhan .. Saya ceroboh sekali :cold_sweat:.

Wanita Yang Baik

Beberapa hari yang lalu ada seorang wanita yang menyatakan bahwa dirinya mungkin sudah tidak cantik lagi, sehingga ia merasa sedikit ‘dijauhi’.

Anyway, ini seperti halnya menilai seseorang, wanita terutama. Bukan cantiknya, bukan pula lekuk tubuhnya yang indah yang harusnya diutamakan, tetapi akhlak/agama lah yang harusnya dipandang. Bukankah benar demikian?

A Deep Voice

Suaranya memang tidak merdu, cara bicarannya juga apa adanya, seperti kebanyakan orang tua pada umumnya. Tetapi ini berbeda. Entahlah, berbalas pembicaraan dengan beliau mungkin adalah salah satu dari beberapa hal yang dapat membuat saya selalu berpikir dalam menentukan kalimat, merangkainya dengan halus, lalu mengutarakannya dengan lembut.

Apapun itu, dan bagaimanapun itu berlalu, itu merupakan sebuah kelegaan yang saya yakini sampai kapanpun akan tetap menjadi topik hangat nan romantis di setiap perbincangan menghabiskan waktu dengan berbagi cerita 18 jam ke belakang, atau jika tidak hanya akan teringat saat berbalas do’a dari sepertiga malam sampai menjelang subuh.

Yang semua akan berawal dari suara beliau ketika bertanya dengan nada sedikit berat, “Kamu benar mau serius sama anak saya?”

Dan memang benar, tidak akan aku biarkan Utara maupun Selatan ikut campur dalam urusan kita 🙂

Suara dari Balik Hijab

Seperti garam yang selalu memainkan perannya diam-diam. Tidak perlu berwujud, ia hanya perlu larut. -Ana Monica Rufisa

Sebuah beban moral yang harus ditanggung setiap pemimpin. Bahwasanya ini semua tak hanya sebuah pergerakan mengejar keberhasilan program kerja, namun sudah seharusnya kembali kepada jalur yang sebenarnya, mendidik moral setiap insan sebagai pelakunya. Saat inilah kau harus berperan, terserah akan kau pakai cara apa, kita tunggu satu sampai tiga bulan kedepan.

Terimakasih telah menjadi sosok yang senantiasa memperhatikan kami.

Ingin Kembali Lagi

Tidak ada cinta di tempat ini. Dan aku juga tidak ingin menjatuhkan hatiku di tempat ini. Namun ternyata dia berhasil mengelabuhiku, menyelinap masuk, lalu menanamkan rindu.

Kuta, 5 September 2012

Bali Je T’Aime




Terimakasih telah mengijinkanku tersesat di pulau ini meskipun hanya dalam beberapa hari tanpa ada rencana apapun sebelumnya, but it’s okay, saya cukup menikmatinya.