Parade Fajar

Dentuman sanubari menggelar
Baliho-baliho berkibar
Dan semangatpun menyebar

Sang fajar mulai sedikit demi sedikit
Laksana cakrawala pengintai rasi
Menyusup di sela-sela jantung kami
Dengan sangat bersahaja
Dan dengan ira yang syahdu.

Sepasang kelopakpun menampakkan paranya
Jika ada yang melantunkan tanda pada kami
Kami akan merapat dan menjawab
Disinilah kami menancapkan hati kami

Dengan keris keraton yang selalu menyayat kami
Dan jika kelopak kami jatuh
Dan disini pula kami akan menanam perkasa-perkasa kelopak yang lain.

Mati satu tumbuh seribu
Dilema nestapa tak akan tumbuh
Tetapi dilema anugerah setya nagari akan kembali.

Hadang .. Terjang .. Garang .. Dan selalu riang.

Santun menjadi watak pribadi
Cucuran keringat tak akan pernah terhenti
Cakut cekatan adalah langkah kami
Ndonyo bakal sari, luhur dening budi astuti.

Setya dharma ibu pertiwi
Dalam kelopak nusa satya.

Parade Senja

Sang Senja meratap hampa
Terucap setya budi prakasa, menilik hari tanpa pelangi, tanpa awan
dan tanpa langit yang berkilauan.

Sang Senja merenung
Mengapa? Mengapa burung tak lagi bernyanyi, dedaunan tak lagi nampak segar?

Dan sang Senjapun hanya bisa melihat, sepasang kelopak tertunduk
Sunyi, sepi, dan tanpa nadi.

Mereka hanya bisa pasrah, hatinya hanya bisa tertuntun oleh batinnya
Pandangannya mulai tak bermakana.
Bersatu bagaikan surga dan neraka.

Demi titisan darah pangeran kami
Dan demi butiran air mata putri kami

Joyo-joyo wijayanti, surodiro jayaningrat, lebur dening pangastuti.

Setya dharma ibu pertiwi, dalam kelopak nusa satya.

Wanita Yang Baik

Beberapa hari yang lalu ada seorang wanita yang menyatakan bahwa dirinya mungkin sudah tidak cantik lagi, sehingga ia merasa sedikit ‘dijauhi’.

Anyway, ini seperti halnya menilai seseorang, wanita terutama. Bukan cantiknya, bukan pula lekuk tubuhnya yang indah yang harusnya diutamakan, tetapi akhlak/agama lah yang harusnya dipandang. Bukankah benar demikian?

Suara dari Balik Hijab

Seperti garam yang selalu memainkan perannya diam-diam. Tidak perlu berwujud, ia hanya perlu larut. -Ana Monica Rufisa

Sebuah beban moral yang harus ditanggung setiap pemimpin. Bahwasanya ini semua tak hanya sebuah pergerakan mengejar keberhasilan program kerja, namun sudah seharusnya kembali kepada jalur yang sebenarnya, mendidik moral setiap insan sebagai pelakunya. Saat inilah kau harus berperan, terserah akan kau pakai cara apa, kita tunggu satu sampai tiga bulan kedepan.

Terimakasih telah menjadi sosok yang senantiasa memperhatikan kami.

Takbir Para Penyair

… CELUPKAN BAIT-BAIT SAJAK MU DALAM CAHAYA ZIKIR DAN DOA, LALU TEMBAKKaN KEBENARAN, DAN BIARLAH MAHA BENAR YANG MENGHAJAR KEPONGAHAN GELAP, DENGAN MAHA CAHAYA.

DI GURUN YANG KETUJUH
H.A Kamal Abdullah ( Malaysia )

Seorang Kemala selepas berjalan dari gurun ke gurun akhirnya tiba di gurun yang ketujuh; pada pinggir gurun itu duduk seorang pendeta. Kemala memberi salam dengan keringat bercucur sambil menyebut “Air!” Itulah satu-satunya kata terlompat dari mulutnya, “Air!” pula yang terlompat dari mulut sang pendeta. Pijar panas gurun beriak-riak pada lidah. Ia bangkit dari meditasinya lalu kembali ke pangkal gurun pertama. Ada sebuah oasis kecil di situ dan banyak air di kolah kecil. “Rumahku bukan di sini, aku rindu panas pijar gurun ke tujuh. Selamat!” tubuh pendeta dibungkus senja di kakilangit. Tinggallah Kemala membisikkan patah-patah sajaknya ‘selepas gurun ke tujuh, sesudah air yang jernih, yang ada adalah diri, diriku sendiri!’

Pulau Pinang – Kuala Lumpur. 1980

KEPADA SEMUT
H.A. Mushtofa Bisri ( Indonesia )

Kepada semut rayap berucap
kamipun semut jangan takut
Kepada rayap kecoa berkata
kami rayap juga jangan curiga
Kepada kecoa tikus mendengus
kami kecoa, lihatlah, jangan salah
Kepada tikus ular berucap
kami juga tikus, jangan sangsi
Kepada ular manusia bicara
kami ular kok mas, jangan cemas

KRISIS
Ayesha Abdullah Scott ( Inggris )

Terperangkap oleh keimananku, tertekan oleh egoku.
Terpanggang oleh kesetiaan dan emosi yang bercanggah.
Melangkah maju kemudian termundur ke belakang.
Terkepung di dalam penjara “peniadaan diri”.
Melempar apa yang kononnya kunci kebebasan.
Meraba-raba untuk pegangan dalam tali-tali penyelamat kehidupan.
Jari-jari mrnyentuh tetapi terjatuh dari penglihatan Dia.
Memerangi tentera-tentera kepuasan diri yang licik.
Semakin hari semakin pupus.
Menapak di atas abu-abu yang terbakar oleh bangga.
Kejahatan dan kebaikan.
Dunia ini penjara, kematian adalah kebebasan.
Tunjukilah aku, lindungilah aku, selamatkanlah aku ya Allah.
Untuk menjadi ‘hamba-MU’ adalah hasratku paling unggul.

PEREMPUAN ITU MENGGERUS GARAM
Goenawan Mohamad ( Indonesia )

Perempuan itu menggerus garam pada cobek di sudut dapur yang kekal. “Aku menciptakan harapan,” katanya, “pada batu hitam.” Asap tidak pernah singkat. Bubungan seperti warna dunia dalam mimpi Yaremiah.

Ia sendiri melamunkan ikan, yang berenang di akuarium, seperti balon-balon malas yang tak menyadari warnanya, ungkapnya, di angkasa. “Merekalah yang bermimpi,” katanya dalam hati.

Tetapi ia sendiri bermimpi. Ia mimpikan busut-busut terigu, yang turun seperti hujan yang menggerutu. Di sebelah ladang. Enam orang berlari seakan ketakutan matahari. “Itu semua anakku,” katanya. “semua anakku.”

Ia tidak tahu kemana mereka pergi, karena sejak itu tidak ada yang pulang. Si bungsu, dari sebuah kota di Rusia, tak pernah menulis surat. Si sulung hilang di sebuah penjara. Empat saudara kandungnya hanya pernah mengirimkan sebuah kalimat, “Mak, kami bukan penghianat.” Suara itu dekat.

Barangkali masih ada seorang gadis, di sajadah yang jauh, (atau mungkin mimpi itu hanya kembali), yang tak mengenalnya, ia sering berpesan dengan bahasa diam asap pabrik. Ia tak berani tahu siapa dia, ia tak berani tahu.

Dan perempuan itu menggerus garam pada cobek di sudut dapur yang kekal.

1995

GHAZAL 12
Akhlaq Mohammad Khan ( India )

Lihatlah sngai itu, yang tengah meluap itu,
Dan kini kau juga bersamaku.
Cahaya ini berasal dai ciuman terakhir tadi.
Apa yang mirip rembulan itu di keningmu?
Aku juga tergesa, betapakah kita akan bicara?
Kau, agaknya, juga tengah didesak untuk bersegera.
Seantero kota seakan menentang matahari
Dibawah lindungan siapa malam menghampar?
Semua pemandangan miulai serupa,
Siapa pula yang mengeri ketakjubanku?

ANAK-ANAK PALESTINA
A. Samad Said ( Malaysia )

………………..
Dan disini –
angin Ranau, nafas Sematan, degub Meleka
menguncupi jantungmu yang terkelar.
Anak-anak Palestina yang tabah,
unta-unta tersingkir dan cedera,
sangat, racun menyentap nafasnya.
Angin Ranau, nafas Sematan, degub Melaka,
suara saka, sakti dan sasa
menggemakan jerit dan raungmu. Dan kau,
dalam debu dan udara yang biasa,
kawah ledak paling gelagak,
enggan hangus atau pupus, dan enggan kalah.

Kudat/Beaufort/Keninggau/KL
15 – 27 Mac 1989


  1. UMMAT, No 10 Thn. I, 13 November1995 / 20 Jumadil Akhir 1416 H