A Deep Voice

Suaranya memang tidak merdu, cara bicarannya juga apa adanya, seperti kebanyakan orang tua pada umumnya. Tetapi ini berbeda. Entahlah, berbalas pembicaraan dengan beliau mungkin adalah salah satu dari beberapa hal yang dapat membuat saya selalu berpikir dalam menentukan kalimat, merangkainya dengan halus, lalu mengutarakannya dengan lembut.

Apapun itu, dan bagaimanapun itu berlalu, itu merupakan sebuah kelegaan yang saya yakini sampai kapanpun akan tetap menjadi topik hangat nan romantis di setiap perbincangan menghabiskan waktu dengan berbagi cerita 18 jam ke belakang, atau jika tidak hanya akan teringat saat berbalas do’a dari sepertiga malam sampai menjelang subuh.

Yang semua akan berawal dari suara beliau ketika bertanya dengan nada sedikit berat, “Kamu benar mau serius sama anak saya?”

Dan memang benar, tidak akan aku biarkan Utara maupun Selatan ikut campur dalam urusan kita 🙂

Suara dari Balik Hijab

Seperti garam yang selalu memainkan perannya diam-diam. Tidak perlu berwujud, ia hanya perlu larut. -Ana Monica Rufisa

Sebuah beban moral yang harus ditanggung setiap pemimpin. Bahwasanya ini semua tak hanya sebuah pergerakan mengejar keberhasilan program kerja, namun sudah seharusnya kembali kepada jalur yang sebenarnya, mendidik moral setiap insan sebagai pelakunya. Saat inilah kau harus berperan, terserah akan kau pakai cara apa, kita tunggu satu sampai tiga bulan kedepan.

Terimakasih telah menjadi sosok yang senantiasa memperhatikan kami.